Polar Ice Melting

Hello readers, lama nggak nge-post ni. Di Provinsi ku lagi heboh ni. Gunung Merapi meletus [balon hijau duer!!]. Dan konspirasi tentang Mbah Maridjan. Hahaha, back to the topic.

Dari data pengamatan satelit GRACE milik NASA, tercatat sudah lebih dari 2 triliun ton es kutub yang mencair. Buset seberat apaan ya? Dari pengukuran tersebut, lebih dari setengahnya berasal dari Greenland. Selama lima tahun, es yang mencair dari Greenland tersebut mengalir ke Teluk Chesapeake dan mengalir ke laut lepas. Bahkan menurut Luthcke, pencairan es di Greenland akan berlangsung semakin cepat.

Penyebabnya karena meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer. Berdasarkan penelitian, saat gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfer, menyebabkan suhu Antartika meningkat 5 sampe 8 derajat untuk 100 taon ke depan. Karena panas, ya ini bikin es krim pedelpop, eh, es kutub mencair. Kalo es kutub mencair, air laut jadi naik. Menurut prediksi, air laut bisa naik 1 sampe 3 kaki (30-90 cm) untuk beberapa taun ke depan.

Bencana yang di khawatirkan oleh para ilmuwan iklim dalam beberapa tahun ini adalah “bom waktu Metana” yang akan meledak ketika suhu kutub Utara yang memanas mencairkan permafrost dan menyebabkan tanaman yang beku di daerah berlumpur serta daerah lainnya yang membusuk kelak akan melepaskan metana dan karbon dioksida. Sekarang datanglah rasa takut dimana metana dapat manjadi bom waktu bagian kedua, gas ini dapat meledak keluar dari lempeng benua Kutub Utara yang dangkal.

Nggek… bingung ya. Jadi gini ceritanya, selama 17 tahun terakhir, para ilmuwan dari Russia meneliti laut di daerah Kutub Utara, Siberia. Mereka meneliti komposisi kimia yang terkandung di laut itu termasuk komposisi Metana dan gas gas lain yang berpotensi sebagai gas rumah kaca. (gas kentut masuk juga nggak ya?). Sampai tahun 2003 konsentrasi Metana tersebut tetap stabi, tapi kemudian konsentrasi Metana tersebut meningkat. Peristiwa itu memicu para ilmuwan untuk menelitinya lebih lanjut. Beberapa minggu kemudian mereka menemukan sebuah area yang mencakup ribuan km persegi yang mengandung Metana dalam dasar laut, yang mulanya dalam keadaan beku. Alias es Metan.

“Bongkahan metana ini kadang mengandung konsentrasi 100 kali lipat lebih tinggi daripada yang biasa ditemukan dalam gelembung-gelembung gas yang berbentuk seperti awan yang sedang bergerak naik melewati air,” kata Orjan Gustafsson dari Universitas Stockholm Jurusan Ilmu Pengetahuan Lingkungan Terapan dan ketua dari ekspedisi dalam sebuah wawancara. Tidak ada keraguan, katanya, metana yang berasal dari lapisan permafrost menunjukkan bahwa dasar laut sedang mencair dan melepaskan gas ken, eits, hamper salah, gas rumah kaca yang potensial ini.

Sebenernya seberapa bahaya sih gas Metan itu? Jadi, gas Metan itu bisa mengikat panas 20 kali lipat lebih kuat daripada Karbon Dioksida loh. Ckckckck.

Kalo dampak dari pencairan es kutub sendiri yaitu, yang pertama udah ku tulis di atas, permukaan air laut naik karena bertambahnya volume air. Itu bisa membuat daratan tenggelam. Dampak yang lain adalah, hilangnya rumah beruang kutub dan pinguin. Kasihan kan mereka jadi tunawisma ntar. Gimana kalo sampe mereka punah? Jangan terjadi deh. Mereka kan lucu. Dampak selanjutnya, mungkin bisa menjadikan dunia kita memasuki zaman es lagi.

“di mana rumahku?”

Jadi gimana readers, menurut kalian bahaya nggak? Kalo menurutku sih masih dalam level medium, tapi kita tetep harus waspada, jangan sampe es di kutub mencair. Kalo perlu di masukin ke freezer aja tu es biar nggak leleh. Yodah deh, sekian aja yah readers. Jangan lupa komenya.

(artikelglobalwarming, pemanasanglobalnet, environment-support, timeforkids)

Iklan