Biofuel, Solusi atau Masalah

readers pasti ngerti kan biofuel tu apa. Kalo kata temen-temenku dulu sih, biofuel tu orang ndorong mobil, atau hewan narik mobil dkk. Emang sih kalo di nalar bio artinya makhluk hidup, fuel artinya bahan bakar. Udahlah abaikan aja celotehanku. Ntar tambah bingung.

Semenjak nge boom nya video Shinta dan Jojo, eh, salah, nge boom nya isu global warming, manusia mulai mengecam bahan bakar minyak alias bbm karena menghasilkan polusi. Sejak saat itulah datanglah superhero bernama Biofuel yang dianggap sebagai solusi untuk bumi yang semakin panas dan mengatasi kelangkaan minyak. Tapi toh, malah bikin mbaksalah juga. Ternyata biofuel malah mempercepat global warming dan nambah masalah lagi.  Jreng..jreng… dan konspirasi ini akan sgera dimulai *halah

mobilku *ngarep

Seperti yang anda ketahui, biofuel adalah bahan bakar yang berasal dari bahan organik. contohnya jagung, keledai kedelai, gandum, sawit, tebu, dll. Biofuel dinilai cocok menggantikan minyak karena hasil gas buangannya lebih ramah lingkungan dan biofuel ini gampang diperbaharui, karena tinggal tanem aja kan tumbuhannya.

Karena keungggulannya, pemakaian biofuel meningkat. Di Eropa campuran biofuel banyak dipake, sedangkan di Amerika lebih dari 80% truk dan bis kota udah mulai pakai biofuel.  Biofuel mulai famous, SPBU nya udah mulai bertebaran juga dan kendaraan khusus biofuel pun juga banyak diproduksi.

Tapi penelitian berkata lain. Menurut penelitian dari Princeton University dan Nature Conservancy, biofuel yang digunakan sekarang menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca dibandingkan dengan bbm. Selain itu biofuel juga bikin harga pangan jadi naik. Lahan-lahan yang biasanya digunakan untuk menanam tanaman pangan diganti untuk menanam tanaman penghasil biofuel. Para petani lebih memilih menanam biofuel karena lebih menguntungkan.Nah, gara-gara hal ini juga, produksi biofuel juga mengancam kelaparan di dunia. Karena naiknya harga makanan pokok, tejadi beberapa kasus bencana kelaparan yang terjadi di Bangladesh, India, dan Cina. Di Meksiko harga Tortila (makanan dari jagung) naik, di Argentina harga tomat lebih mahal dari daging. Harga susu di beberapa negara juga naik 2 kali lipat. Indonesia juga kena getahnya karena kita masih ngimpor gandum dan kedelai. Gandum adalah bahan dasar mie sedangkan kedelai untuk membuat tempe, tahu, kecap, dll. In the end, biofuel malah bikin krisis pangan gobal.

Selain krisis pangan global, biofuel juga menyebabkan berkurangnya hutan. Karena permintaan biofuel meningkat, lahan yang dibutuhkan juga meningkat. Ini menyebabkan terjadinya pembabatan hutan. Banyak hutan yang ditebang dan dibakar. Sekitar 37% hutan di negaranya Upin dan Ipin ditebang untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit (penghasil biofuel). Hutan di Amazon, Kalimantan dan Sumatera juga dibakar sebagai lahan biofuel. Paru-paru dunia kita mulai berkurang, dan parahnya lagi, gas dari pembakaran hutan menambah emisi.

Sebenarnya masih ada satu solusi bahan bakar biofuel. Yaitu menggunakan limbah organik seperti tangkai jagung, dan sebagainya. Hanya saja teknologi untuk membuat biofuel dari bahan tersebut masih dalam masa pertumbuhan. Yah, semoga aja itu jadi solusi.

Source : GoGirl!, time.com

Iklan